Berwisata ke gua bagi sebagian orang menjadi alternatif yang
tidak banyak dipilih dalam daftar jalan-jalan atau melepas kepenatan. Kesan
gelap dan seram kerap menghampiri di benak kita ketika mendengar kata “gua”.
Tetapi akan berbeda jika anda berkunjung ke gua yang berada di desa Batu
Tering, Kecamatan Moyo Hulu ini. Keadaan dalam gua yang tidak terlalu gelap
karena sebagian cahaya bisa masuk melalui mulut gua yang sedikit lebar ini.
Sehingga kesan gelap dan seram tidak begitu terasa.
Melalui jalan berbukit – bukit, tanpa aspal, dihiasi batu –
batu kerikil yang terhampar disepanjang perjalanan, Saya bersama keluarga dan para wisatawan lain dari berbagai daerah beriringan
memacu kendaraan menuju tempat pariwisata “Liang Bukal”. Dalam bahasa Sumbawa
liang berarti lubang yang sangat dalam atau disebut gua dalam bahasa
Indonesia.Sedangkan bukal adalah bahasa Sumbawa untuk kelewawar. Jadi “Liang
Bukal” dapat di artikan sebagai gua yang di penuhi oleh para kelewawar. Perjalanan yang sedikit ekstrim itu lumayan
menguras tenaga saya dan tentunya memacu andrenalin. Hal itu pasti akan
dirasakan bagi setiap wisatawan yang baru pertama kalinya berkunjung.
Namun demikian ditengah – tengah perjalanan, tenaga yang
tadinya terkuras seakan – akan pulih seketika mata saya dimanjakan oleh
pemandangan alam yang begitu mempesona. Gunung – gunung yang menjulang tinggi
ke awan dihiasi oleh sawah – sawah yang terbentang luas dikaki gunung. Terik
matahari yang mengiringi perjalanan Saya bersama keluarga hampir tak terasa
karena ditaklukkan oleh kesejukan udara dari gunung – gunung disekeliling kita yang menerpa tubuh saat mengendarai
motor. Rasa tak sabar pun semakin menggebu ketika Saya bersama keluarga hampir
sampai di Pariwisata Liang Bukal.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan 4 km dari Desa Batu Tering,
Kecamatan Moyo Hulu, Saya bersama keluarga pun tiba di Pariwisata Liang Bukal.
Sementara itu jarak antara Kota Sumbawa Besar ke Desa Batu Tering sekitar 15
km. Sungguh perjalanan yang cukup memenatkan. Akan tetapi kepenatan itu terasa
pudar ketika saya melihat suguhan keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lambaian daun pohon jabon yang ditanam, tumbuh tinggi dan tertata rapi di depan
pintu seakan menyambut manis para wisatawan ketika memasuki pintu gerbang.
Rumah panggung (rumah adat Sumbawa) yang dibangun begitu megah sebagai salah
satu fasilitas bagi wisatawan. Taman – taman yang menghiasi jalan setapak
menuju ke kaki gunung. Dikaki gunung terdapat sungai kecil tempat permandian yang
mampu menyegarkan tubuh para wisatawan yang tadinya begitu lelah dan letih
selama diperjalanan. Air dari kaki gunung ini pula yang dialirkan ke Desa Batu
Tering sebagai salah satu sumber air bersih bagi masyarakat.
Tidak hanya itu suguhan bagi para wisatawan, di Liang Bukal
saya terkagum – kagum melihat batu – batu besar yang alami tertanam kokoh di pinggir
jalan layaknya sebuah tembok raksasa. Disetiap sudut – sudut juga terdapat
balai – balai mungil yang menjadi tempat
peristirahatan para wisatawan dan menambah keindahan Pariwisata Liang Bukal. Satu
hal lagi yang menyempurnakan keindahan Pariwisata ini, yaitu keberadaan sebuah
gunung yang menjulang indah ke langit. Gunung ini terpapar tepat di depan para
wisatawan ketika pertama memasuki pintu gerbang. Di gunung inilah “Liang Bukal
atau Goa Kelelawar” itu terletak. Dinamakan Liang Bukal atau Goa Kelelawar,
karena goa tersebut dihuni oleh ribuan kelelawar yang terus berkembang biak.
Meskipun Goa itu dihununi oleh kelelawar – kelelawar dan
kotorannya yang beraroma kurang sedap, tetapi saya melihat tidak sedikit para
wisatawan yang berusaha mendaki gunung kemudian memasuki Goa tersebut. Saya
sebagai salah satu wisatawan pun tentu penasaran dengan Liang Bukal atau Goa
Kelelawar itu. Sehingga saya pun ikut mendaki gunung serta memasuki Goa
Kelelawar bersama wisatawan – wisatawan lain dan akhirnya rasa penasaran saya
pun terjawab.
Para wisatawan biasanya akan terlihat ramai ketika diakhir
pekan atau liburan tiba. Karena mengiat perjuangan untuk menuju Pariwisata ini
membutuhkan waktu yang cukup lama dan tenaga ekstra. Sehingga di hari liburlah
waktu yang tepat bagi para wisatawan yang berasal dari luar daerah untuk
berkunjung. Dengan membayar tiket masuk yang hanya Rp 5000, para wisatawan
sudah bisa menikmati keeksotikan Pariwisata Liang Bukal dengan kealamian Pariwisata
yang terpelihara.