Senin, 09 Maret 2015

Lalui Rintangan, Temukan Keeksotikan Liang Bukal


Berwisata ke gua bagi sebagian orang menjadi alternatif yang tidak banyak dipilih dalam daftar jalan-jalan atau melepas kepenatan. Kesan gelap dan seram kerap menghampiri di benak kita ketika mendengar kata “gua”. Tetapi akan berbeda jika anda berkunjung ke gua yang berada di desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu ini. Keadaan dalam gua yang tidak terlalu gelap karena sebagian cahaya bisa masuk melalui mulut gua yang sedikit lebar ini. Sehingga kesan gelap dan seram tidak begitu terasa.
Melalui jalan berbukit – bukit, tanpa aspal, dihiasi batu – batu kerikil yang terhampar disepanjang perjalanan, Saya bersama keluarga  dan para wisatawan lain dari berbagai daerah beriringan memacu kendaraan menuju tempat pariwisata “Liang Bukal”. Dalam bahasa Sumbawa liang berarti lubang yang sangat dalam atau disebut gua dalam bahasa Indonesia.Sedangkan bukal adalah bahasa Sumbawa untuk kelewawar. Jadi “Liang Bukal” dapat di artikan sebagai gua yang di penuhi oleh para kelewawar.  Perjalanan yang sedikit ekstrim itu lumayan menguras tenaga saya dan tentunya memacu andrenalin. Hal itu pasti akan dirasakan bagi setiap wisatawan yang baru pertama kalinya berkunjung.
Namun demikian ditengah – tengah perjalanan, tenaga yang tadinya terkuras seakan – akan pulih seketika mata saya dimanjakan oleh pemandangan alam yang begitu mempesona. Gunung – gunung yang menjulang tinggi ke awan dihiasi oleh sawah – sawah yang terbentang luas dikaki gunung. Terik matahari yang mengiringi perjalanan Saya bersama keluarga hampir tak terasa karena ditaklukkan oleh kesejukan udara dari gunung – gunung disekeliling  kita yang menerpa tubuh saat mengendarai motor. Rasa tak sabar pun semakin menggebu ketika Saya bersama keluarga hampir sampai di Pariwisata Liang Bukal.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan 4 km dari Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Saya bersama keluarga pun tiba di Pariwisata Liang Bukal. Sementara itu jarak antara Kota Sumbawa Besar ke Desa Batu Tering sekitar 15 km. Sungguh perjalanan yang cukup memenatkan. Akan tetapi kepenatan itu terasa pudar ketika saya melihat suguhan keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Lambaian daun pohon jabon yang ditanam, tumbuh tinggi dan tertata rapi di depan pintu seakan menyambut manis para wisatawan ketika memasuki pintu gerbang. Rumah panggung (rumah adat Sumbawa) yang dibangun begitu megah sebagai salah satu fasilitas bagi wisatawan. Taman – taman yang menghiasi jalan setapak menuju ke kaki gunung. Dikaki gunung terdapat sungai kecil tempat permandian yang mampu menyegarkan tubuh para wisatawan yang tadinya begitu lelah dan letih selama diperjalanan. Air dari kaki gunung ini pula yang dialirkan ke Desa Batu Tering sebagai salah satu sumber air bersih bagi masyarakat.

Tidak hanya itu suguhan bagi para wisatawan, di Liang Bukal saya terkagum – kagum melihat batu – batu besar yang alami tertanam kokoh di pinggir jalan layaknya sebuah tembok raksasa. Disetiap sudut – sudut juga terdapat balai – balai mungil yang  menjadi tempat peristirahatan para wisatawan dan menambah keindahan Pariwisata Liang Bukal. Satu hal lagi yang menyempurnakan keindahan Pariwisata ini, yaitu keberadaan sebuah gunung yang menjulang indah ke langit. Gunung ini terpapar tepat di depan para wisatawan ketika pertama memasuki pintu gerbang. Di gunung inilah “Liang Bukal atau Goa Kelelawar” itu terletak. Dinamakan Liang Bukal atau Goa Kelelawar, karena goa tersebut dihuni oleh ribuan kelelawar yang terus berkembang biak.
Meskipun Goa itu dihununi oleh kelelawar – kelelawar dan kotorannya yang beraroma kurang sedap, tetapi saya melihat tidak sedikit para wisatawan yang berusaha mendaki gunung kemudian memasuki Goa tersebut. Saya sebagai salah satu wisatawan pun tentu penasaran dengan Liang Bukal atau Goa Kelelawar itu. Sehingga saya pun ikut mendaki gunung serta memasuki Goa Kelelawar bersama wisatawan – wisatawan lain dan akhirnya rasa penasaran saya pun terjawab.
Para wisatawan biasanya akan terlihat ramai ketika diakhir pekan atau liburan tiba. Karena mengiat perjuangan untuk menuju Pariwisata ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan tenaga ekstra. Sehingga di hari liburlah waktu yang tepat bagi para wisatawan yang berasal dari luar daerah untuk berkunjung. Dengan membayar tiket masuk yang hanya Rp 5000, para wisatawan sudah bisa menikmati keeksotikan Pariwisata Liang Bukal dengan kealamian Pariwisata yang terpelihara.